Membicarakan
anak-anak berkebutuhan khusus, sesungguhnya banyak sekali variasi dan derajat kelainan.
Ini mencakup anak-anak yang mengalami
kelainan fisik, mental-intelektual,
sosial-emosional, maupun masalah akademik. Kita ambil contoh anak-anak
yang mengalami kelainan fisik saja
ada tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa (cacat tubuh)
dengan berbagai derajat kelaianannya.
Ini adalah yang secara nyata dapat dengan mudah dikenali. Keadaan seperti ini sudah
barangtentu harus dipahami oleh
seorang guru, karena merekalah yang secara
langsung memberikan pelayanan pendidikan di sekolah kepada semua anak didiknya. Namun keragaman yang ada pada anak-anak tersebut belum tentu dipahami semua guru di sekolah.
KLASIFIKASI
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
1. Anak-Anak
Berkelainan Fisik
klasifikasi
anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan fisik, yaitu anak
tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa.
Klasifikasi Anak Tunanetra
Anak tunanetra
adalah anak-anak yang mengalami
kelainan atau gangguan fungsi penglihatan,
yang memiliki tingkatan atau klasifikasi yang berbeda-beda. secara pedagogis membutuhkan layanan pendidikan khusus dalam belajarnya di sekolah. Berdasarkan
tingkatannya, dapat diklasifikasi
sebagai berikut:
1. Berdasarkan Tingkat Ketajaman Penglihatan
Seseorang
yang dikatakan penglihatannya normal, apabila hasil tes Snellen menunjukkan
ketajaman penglihatannya 20/20 atau
6/6 meter. Sedangkan
untuk seseorang yang mengalami
kelainan
penglihatan kategori Low vision (kurang lihat), yaitu penyandang
tunanetra yang memiliki
ketajaman penglihatan 6/20m-6/60m.
Kondisi yang demikian sesungguhnya penderita masih dapat melihat dengan bantuan alat khusus. Selanjutnya
untuk seseorang yang mengalami kelainan
penglihatan katergori berat, atau The
blind, yaitu
penyandang tunanetra yang memiliki tingkat ketajaman penglihatan 6/60m
atau kurang. Untuk yang kategori
berat ini, masih ada dua kemungkinan (1)
penderita adakalanya masih dapat melihat gerakan-gerakan tangan, ataupun (2) hanya dapat membedakan gelap dan terang.
Sedangkan tunanetra yang memilki ketajaman penglihatan dengan visus 0, sudah sama sekali tidak dapat melihat.
2. Berdasarkan adaptasi Pedagogis,
Kirk,
SA (1989) mengklasifikasikan penyandang tunanetra berdasarkan kemampuan
penyesuaiannya dalam pemberian
layanan pendidikan khusus yang diperlukan. Klasifikasi dimaksud adalah:
·
Kemampuan melihat sedang (moderate visual
disability), dimana pada taraf ini mereka masih
dapat melaksanakan tugas-tugas visual yang dilakukan
orang awas dengan menggunakan alat
bantu khusus serta dengan bantuan cahaya yang cukup.
·
Ketidakmampuan melihat taraf berat
(severe visual disability). Pada taraf ini,mereka memiliki penglihatan yang kurang baik, atau kurang
akurat meskipun dengan menggunakan
alat Bantu visual dan
modifikasi, sehingga mereka membutuhkan
banyak dan tenaga dalam
mengerjakantugas-tugas visual.
·
Ketidakmampuan melihat taraf sangat
berat (profound visual disability)
Pada taraf ini mereka mengalami kesulitan dalam melakukan
tugas- tugas visual, dan tidak dapat melakukan tugas-tugas visual yang lebih detail seperti membaca dan
menulis. Untuk itu mereka sudah
tidak
dapat memanfaatkan penglihatannya dalam pendidikan, dan mengandalkan
indra perabaan dan
pendengaran dalam menempuh pendidikan.
Klasifikasi Anak Tunarungu
Tunarungu
adalah istilah yang menunjuk pada
kondisi ketidakfungsian organ pendengaran atau telinga seseorang anak. Kondisi ini menyebabkan mereka mengalami hambatan atau keterbatasan dalam merespon bunyi-bunyi yang ada
di sekitarnya. Tunarungu terdiri atas beberapa tingkatan kemampuan mendengar,
yang umum dan khusus. Ada beberapa
klasifikasi anak tunarungu secara umum,
yaitu:
1.
Klasifikasisi umum
· The
deaf, atau tuli, yaitu penyandang tunarungu berat
dan sangat berat dengan tingkat ketulian di atas 90
dB.
· Hard of Hearing, atau
kurang dengar, yaitu
penyandang tunarungu ringan atau sedang, dengan
derajat ketulian 20 – 90 dB.
2. Klasifikasi Khusus
·
Tunarungu ringan, yaitu
penyandang tunarungu yang mengalami tingkat ketulian 25– 45 Db, yaitu sesorang
yang mengalami ketunarunguan taaf ringan,
dimana ia mengalami kesulitan untuk merespon suara-suara
yang datangnya agak jauh. Pada
kondisi yang demikian, seseorang anak
secara pedagogis sudah memerlukan perhatian khusus dalam belajarnya di sekolah, misalnya dengan menempatkan
tempat duduk di
bagian depan, yang dekat dengan guru.
·
Tunarungu sedang, yaitu
penyandang tunarungu yang mengalami
tingkat ketulian 46 – 70 dB,yaitu seseorang yang mengalami ketunarunguan
taraf sedang, dimana ia hanya dapat mengerti percakapan pada jara 3-5 feet secara
berhadapan, tetapi tidak
dapt mengikuti diskusi-diskusi di
kelas. Untuk anak yang mengalami
ketunarunguan taraf ini memerlukan
adanya alat bantu dengar (hearing
aid), dan memerlukan pembinaan komunikasi, persepsi bunyi dan irama.
·
Tunarungu berat, yaitu
penyandang tunarungu yang mengalami
tingkat ketulian 71 – 90 dB,sesorang yang mengalami ketunarunguan
taraf berat, hanya dapat merespon bunyi-bunyi dalam jarak yang sangat dekat dan diperkeras. Siswa dengan kategori ini juga memerlukan alat bantu dengar dalam mengikuti
pendidikannya di sekolah. Siswa juga sangat memerlukan
adanya pembinaan
atau latihan-latihan komunikasi dan pengembangan bicaranya.
·
Tunarungu sangat berat (profound), yaitu penyandang tunarungu
yang mengalami
tingkat ketulian 90 dB ke atas, Pada taraf ini, mungkin seseorang sudah
tidak dapat merespon suara sama sekali, tetapi mungkin masih bisa merespon melalui
getaran- getaran suara yang ada. Untuk kegiatan pendidikan dan aktivitas
lainnya, penyandang tunarungu kategori ini lebih mengandalkan kemampuan visual atau penglihatannya.
Klasifikasi Anak Tunadaksa
Anak tunadaksa adalah
anak-anak yang mengalami kelainan fisik, atau cacat tubuh, yang
mencakup
kelainan anggota
tubuh maupun yang mengalami
kelainan gerak dan kelumpuhan,
yang sering disebut
sebagai cerebral palsy (CP),
dengan klasifikasi sebagai berikut:
Menurut
tingkat kelainannya, anak-anak tunadaksa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Cerebral
palsy (CP) :
·
Ringan, dapat berjalan tanpa
alat bantu, mampu berbicara dan dapat menolong dirinya sendiri.
·
Sedang, memerlukan bantuan
untuk berjalan, latihan
berbicara, dan mengurus diri sendiri.
·
Berat, memerlukan
perawatan tetap dalam ambulansi, berbicara, dan menolong diri
sendiri.
2. Berdasarkan letaknya
·
Spastic, kekakuan pada sebagian atau seluruh ototnya.
·
Dyskenisia, gerakannya tak terkontrol
(athetosis), serta
terjadinya kekakuan pada seluruh
tubuh yang sulit digerakkan
(rigid).
·
Ataxia, gangguan keseimbangan, koordinasi mata dan tangan tidak berfungsi, dan cara berjalannya
gontai.
·
Campuran, yang mengalami kelainan ganda
3. Polio
·
Tipe spinal, kelumpuhan pada otot-otot leher, sekat dada, tangan dan kaki
·
Tipe bulbair, kelumpuhan fungsi motorik pada satu atau lebih saraf tepi yang menyebabkan adanya gangguan pernapasan.
·
Tipe bulbispinalis, gangguan antara tipe spinal dan bulbair.
·
Encephalitis, yang umumnya ditandai
dengan adanya demam, kesadaran menurun, tremor, dan
kadang-kadang kejang.
2. Anak
Berkelainan Mental Dan Emosional
Klasifikasi
anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan mental- emosional, yaitu
anak tunagrahita, dan tunalaras.
Klasifikasi Anak Tunagrahita
Untuk memahami klasifikasi anak tunagrahita maka perlu disesuaikan
dengan klasifikasinya karena setiap
kelompok tunagrahita
memiliki klasifikasi yang berbeda-beda. Sesuai dengan bidang bahasan pada materi ini
akan dibahas klasifikasi akademik tunagrahita
sebagai berikut:
Ada beberapa klasifikasi atau pengelompokkan tunagrahita berdasarkan berbagai tinjauan diantaranya:
1. Berdasarkan kapasitas
intelektual (sekor IQ)
-
Tunagrahita ringan IQ 50 – 70
-
Tunagrahita sedang IQ 35 – 50
-
Tunagrahita berat IQ 20 – 35
-
Tunagrahita sangat berat memiliki IQ di bawah 20
2. Berdasarkan kemampuan
akademik
-
Tunagrahita mampudidik
-
Tunagrahita mampulatih
-
Tunagrahita perlurawat\
3. Berdasarkan tipe
klini pada fisik
-
Down’s Syndrone (Mongolism)
-
Macro Cephalic (Hidro Cephalic)
-
Micro Cephalic
Pengklasifikasian
anak tunagrahita perlu dilakukan untuk memudahkan guru dalam menyusun program layanan/pendidikan dan melaksanakannya secara tepat. Perlu diperhatikan bahwa perbedaan individu (individual
deferences) pada anak tunagrahita bervariasi
sangat besar, demikian juga dalam
pengklasifikasi terdapat cara yang sangat bervariasi tergantung
dasar pandang dalam pengelompokannya.
Klasifikasi itu sebagai berikut :
1. Klasifikasi
yang berpandangan medis,
dalam bidang ini
memandang variasi anak tunagrahita dari keadaan tipe klinis. Tipe klinis pada tanda anatomik dan fisiologik yang mengalami patologik
atau penyimpangan. Kelompok tipe klinis di antaranya:
a.
Down Syndrom (dahulu disebut
Mongoloid)
Pada tipe ini terlihat raut rupanya menyerupai orang Mongol dengan ciri: mata sipit dan miring, lidah tebal dan terbelah-belah serta biasanya menjulur keluar, telinga kecil, tangan kering,
semakin dewasa kulitnya semakin kasar, pipi bulat, bibir tebal dan besar, tangan bulat dan
lemah, kecil, tulang tengkorak dari muka hingga belakang tampak pendek.
b. Kretin
Pada tipe kretin nampak seperti orang cebol dengan ciri: badan pendek, kaki tangan
pendek, kulit kering, tebal, dan keriput,
rambut kering, kuku pendek dan tebal.
c.
Hydrocephalus
Gejala yang nampak adalah semakin membesarnya Cranium (tengkorak kepala) yang
disebabkan oleh semakin
bertambahnya atau bertimbunnya cairan Cerebro-spinal pada kepala. Cairan ini memberi
tekanan pada otak besar (cerebrum)
yang menyebabkan kemunduran fungsi otak.
d. Microcephalus,
Macrocephalus, Brachicephalus dan Schaphocephalus
Keempat istilah
tersebut menunjukkan
kelainan bentuk dan ukuran
kepala, yang masing-masing dijelaskan
sebagai berikut:
Æ’Microcephalus
: bentuk ukuran kepala yang kecil
Æ’Macrocephalus
: bentuk ukuran kepala
lebih besar dari ukuran
normal
Æ’Brachicephalus : bentuk kepala yang melebar
Æ’Schaphocephalus : memiliki ukuran kepala yang panjang
sehingga menyerupai menara
e.
Cerebral Palsy (kelompok kelumpuhan pada otak
Kelumpuhan pada otak mengganggu
fungsi kecerdasan, di samping
kemungkinan mengganggu pusat
koordinasi gerak, sehingga kelainan cerebral palsy terdiri tunagrahita dan gangguan koordinasi gerak. Gangguan
koordinasi gerak menjadi kajian
bidang penanganan tunadaksa, sedangkan gangguan kecerdasan menjadi kajian bidang penanganan tunagrahita.
f.
Rusak otak (Brain Damage)
Kerusakan otak berpengaruh terhadap berbagai
kemampuan yang
dikendalikan oleh pusat susunan saraf
yang selanjutnya dapat terjadi gangguan kecerdasan,
gangguan pengamatan, gangguan tingkah laku, gangguan
perhatian, gangguan motorik.
2. Klasifikasi yang berpandangan pendidikan, memandang
variasi anak tunagrahita dalam kemampuannya
mengikuti pendidikan. Kalangan American Education
(Moh. Amin, 1995:21) mengelompokkan menjadi Educable mentally
retarded, Trainable mentally retarded dan Totally
/ costudial dependent yang diterjemahkan
dalam bahasa Indonesia : mampu didik, mampu latih, dan perlu rawat. Pengelompokan tersebut sebagai berikut:
a.
Mampu
didik, anak
ini setingkat mild, Borderline,
Marginally
dependenmoron,dan debil. IQ mereka berkisar 50/55-70/75.
b. Mampu
latih, setingkat dengan Morderate,
semi
dependent, imbesil, dan memiliki
tingkat kecerdasan IQ berkisar 20/25-50/55.
c.
Perlu rawat, mereka termasuk Totally dependent or profoundly mentally retarded, severe, idiot, dan tingkat kecerdasannya 0/5-20/25
3. Klasifikasi
yang berpandangan sosiologis memandang variasi
tunagrahita dalam kemampuannya mandiri di masyarakat, atau peran yang dapat
dilakukan masyarakat. Menurut AAMD (Amin,
1995:22-24) klasifikasi itu sebagai
berikut :
a.
Tunagrahita ringan; tingkat kecerdasan (IQ)
mereka berkisar 50-70, dalam
penyesuaian sosial maupun bergaul, mampu menyesuaikan diri pada lingkungan sosial
yang lebih luas
dan mampu melakukan
pekerjaan setingkat semi terampil.
b. Tunagrahita
sedang; tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar antara 30-50; mampu
melakukan keterampilan mengurus
diri sendiri (self-helf); mampu mengadakan adaptasi sosial di
lingkungan terdekat; dan mampu
mengerjakan pekerjaan rutin yang perlu pengawasan atau bekerja di tempat kerja
terlindung (sheltered work-shop).
c.
Tunagrahita berat dan sangat berat, mereka sepanjang kehidupannya selalu tergantung bantuan dan
perawatan orang lain. Ada yang masih mampu dilatih
mengurus sendiri
dan berkomunikasi secara
sederhana dalam batas tertentu, mereka memiliki tingkat kecerdasan (IQ) kurang dari 30.
4. Klasifikasi
yang dikemukakan oleh Leo Kanner (Amin, 1995:22-24), dan ditinjau
dari sudut tingkat pandangan masyarakat sebagai berikut:
a.
Tunagrahita
absolut, termasuk kelompok tunagrahita yang jelas nampak
ketunagrahitannya baik berada di pedesaan maupun
perkotaan, di masyarakat petani maupun masyarakat
industri, di lingkungan sekolah, lingkungan keluarga dan di tempat pekerjaan. Golongan ini penyandang
tunagrahita kategori sedang.
b. Tunagrahita relatif, termasuk kelompok
tunagrahita yang dalam masyarakat tertentu dianggap tunagrahita, tetapi di tempat masyarakat lain tidak dipandang tunagrahita. Anak tunagrahita
dianggap demikian ialah anak tunagrahita ringan karena masyarakat perkotaan
yang maju dianggap tunagrahita dan
di masyarakat pedesaan yang masih
terbelakang dipandang bukan tunagrahita.
c.
Tunagrahita
semu (pseudo mentally
retarded) yaitu anak
tunagrahita yang menunjukan
penampilan sebagai penyandang tunagrahita tetapi sesungguhnya ia mempunyai
kapasitas kemampuan yang normal. Misalnya seorang anak dikirim ke
sekolah khusus karena menurut hasil
tes kecerdasannya rendah, tetapi setelah mendapat
pengajaran remedial dan bimbingan khusus menjadikan kemampuan belajar dan adaptasi sosialnya normal.
5. Klasisikasi
menurut kecerdasan
(IQ), dikemukakan oleh Grosman (Hallahan & Kauffman, 1988:48) sebagai
berikut:
TERM
|
IQ RANGE
FOR LEVEL
|
Mild Mental Retardation
Mederate Mental Retardation
Severe Mental
Retardation
Profound Mental Retardation
|
55-70 to Aprox, 70
35-40 to 50-55
20-25 to 35-40 bellow 20 or 25
|
Klasifikasi
tunagrahita dari berbagai pandangan tersebut
jika dipadukan akan membentuk tabel sebagai berikut:
Kemampuan dalam
pendidikan
|
Sosiologis
|
Tingkat
kecacatan
|
Tingkat
kecerdasan (IQ)
|
Mampu didik
|
Ringan,mild,
marginally, dependent, moron.
|
Debil
|
55-70 to Aprox 70
|
Mampu latih
|
Sedang,
moderate,
semi dependent.
|
Imbesil
|
35-40 to 50-55
|
Perlu rawat
|
Berat, severe,
totally dependent, profound.
|
Idiot
|
20-25 to 35-40
bellow 20 or 25
|
Klasifikasi Anak Tunalaras
Anak
tunalaras adalah anak-anak yang mengalami gangguan
perilaku, yang ditunjukkan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun dalam lingkungan sosialnya. Pada hakekatnya, anak-anak tunalaras memiliki kemampuan intelektual yang normal,
atau tidak berada di bawah rata-rata. Kelainan
lebih banyak banyak terjadi pada
perilaku sosialnya.
Beberapa
klasifikasi yang menonjol
dari anak-anak berkebutuhan khusus
yang mengalami kelainan
perilaku sosial ini adalah:
1. Berdasarkan
perilakunya
·
Beresiko tinggi; hiperaktif
suka berkelahi, memukul, menyerang, merusak milik sendiri
atau orang lain, melawan, sulit konsentrasi, tidak mau
bekerjasama, sok aksi, ingin menguasai
oranglain, mengancam,
berbohong, tidak bisa diam, tidak dapat dipercaya, suka mencuri, mengejek,
dan sebagainya.
·
Beresiko rendah; autism, kawatir, cemas, ketakutan,
merasa tertekan, tidak mau
bergaul, menarik diri, kurang percaya diri, bimbang,
sering menangis, malu, dan
sebagainya.
·
Kurang dewasa; suka berfantasi, berangan-anagan, mudah dipengaruhi, kaku, pasif, suka mengantuk, mudah bosan, dan sebagainya
·
Agresif; memiliki gang jahat, suka mencuri dengan kelompoknya, loyal terhadap teman jahatnya,
sering bolos sekolah, sering pulang larut malam,
dan terbiasa minggat dari rumah.
2. Berdasarkan Kepribadian
·
Kekacauan perilaku
·
Menarik diri (withdrawll)
·
Ketidakmatangan (immaturity)
·
Agresi sosial
3.
Anak Berkelainan Akademik
Pada
bagian ini akan mengantarkan saudara
untuk memahami karakateristik anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan akademik,
yaitu anak berbakat, dan anak
berkesulitan belajar. Untuk itu saudara diharapkan
dapat mencermatinya dengan baik,
dan membaca referensi yang relevan dengan kajian materi ini. Usai mengikuti pembahasan
subunit ini saudara diharapkan dapat menjelaskan KLASIFIKASI anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan
akademik.
Klasifikasi Anak Berbakat
Anak berbakat dalam
konteks ini adalah anak-anak yang mengalami kelainan intelektual di
atas rata-rata. Berkenaan dengan kemampuan
intelektual ini Cony Semiawan (1997:24) mengemukakan,
bahwa diperkirakan satu persen dari populasi total penduduk Indonesia yang
rentangan IQ sekitar 137 ke atas, merupakan manusia berbakat tinggi (highly gifted), sedangkan mereka
yang rentangannya berkisar 120-137 yaitu yang mencakup
rentangan 10 persen di bawah yang satu persen itu disebut moderately gifted.
Mereka semua memiliki talen akademik (academic talented) atau keberbakatan intelektual.
Beberapa klasifikasi yang menonjol dari anak-anak berbakat umumnya
hanya dilihat dari tingkat inteligensinya, berdasarkan
standar Stanford Binet, yaitu meliputi :
1. kategori rata-rata tinggi , dengan
tingkat kapasitas
intentelektual (IQ):110-119
2. kategori superior,
dengan tingkat kapasitas intelektual (IQ) :120-139, dan
3. kategori
sangat superior, dengan tingkat intelektual (IQ) :140-169
Ketiga
klasifikasi tersebut,
sebenarnya yang masuk kategori anak berbakat dalam
kontek pendidikan anak berkebutuhan khusus di sini.
Klasifikasi Anak Berkesulitan
Belajar
Berkesulitan
belajar merupakan salah satu jenis anak berkebutuhan khusus yang ditandai
dengan adanya kesulitan untuk mencapai
standar kompetensi (prestasi)
yang telah ditentukan dengan mengikuti pembelajaran konvensional. Learning disability merupakan suatu istilah yang mewadahi berbagai jenis kesulitan yang dialami anak terutama yang berkaitan
dengan masalah akademis.
Adapun klasifikasi anak berkesulitan
belajar spesifik yang merupakan jenis kelainan unik tidak ada kesamaan antara
penderita satu dengan lainnya.
Untuk mengklasifikasikan anak berkesulitan belajar spesifik dapat
dilakukan berdasar pada tingkat usia dan juga jenis kesulitannya, yaitu:
1. Kesulitan Berlajar
Perkembangan
Pengelompokkan kesulitan belajar pada anak usia di
bawah 5 tahun (balita) adalah kesulitan
belajar perkembangan,
hal ini dikarenakan anak balita belum belajar secara akademis, tetapi belajar
dalam proses kematangan prasyarat akademis, seperti kematangan persepsi visual- auditory, wicara, daya deferensiasi, kemampuan sensory-motor dsb.
2. Kesulitan
Belajar Akademik
Anak-anak
usia sekolah yaitu usia di atas 6
tahun masuk dalam kelompok
kesulitan belajar akademik,
disebabkan karena kesulitan belajar akademik anak-anak ini mengalami kesulitan bidang akademik di sekolah yang sangat spesifik
yaitu kesulitan dalam satu
jenis/bidang akademik seperti
berhitung/matematika
(diskalkulia), kesulitan membaca (disleksia),
kesulitan menulis (disgraphia), kesulitan berbahasa (disphasia),
kesulitan/tidak terampil (dispraksia), dsb.
Ada
klasifikasi lain yang berdasarkan dari
jenis gangguan atau
kesulitan yang dialami anak yaitu:
·
Dispraksia, merupakan
gangguan pada
keterampilan
motorik, anak terlihat kurang
terampil dalam melakukan aktivitas
motorik. Seperti sering menjatuhkan benda yang dipegang,
sering memecahkan gelas
kalau minum.
·
Disgraphia, kesulitan dalam menulis ada yang memang karena gangguan pada motoris sehingga
tulisanya sulit untuk dibaca orang
lain, ada yang sangat lambat aktibitas motoriknya, dan juga adanya hambatan pada ideo motorik sehingga sering
salah atau tidak
sesuai apa yang dikatakan dengan yang ditulis.
·
Diskalkulia, adalah kesulitan
dalam menghitung dan matematika hal ini sering dikarenakan adanya gangguan
pada memori dan logika.
·
Disleksia, merupakan kesulitan
membaca baik membaca
permulaan maupun pemahaman.
·
Disphasia, kesulitan berbahasa
dimana anak sering melakukan kesalahan dalam berkomunikasi baik menggunakan
tulis maupun lisan.
·
Body awarness, anak tidak memiliki akan kesadaran
tubuh sering salah
prediksi pada aktivitas gerak mobilitas
seperti sering menabrak bila
berjalan.
Kesimpulan
Klasifikasi anak-anak berkebutuhan khusus, yang mengalami
kelainan fisik mencakup anak-anak yang mengalami kelainan penglihatan
(tunanetra), kelainan fungsi pendengaran (tunarungu), dan anak-anak yang
mengalami kelainan tubuh (tunadaksa). Derajat kelainan masing-masing jenis
ketunaan tersebut sangat beragam, dari kategori ringan sampai yang berat, namun
secara umum dapat dilihat klasifikasi secara umum maupun klasifikasi secara
khusus.
Klafifikasi anak-anak berkebutuhan khusus, yang mengalami kelainan
mental intelektual dan emosional mencakup anak-anak yang mengalami kelainan
keterbelakangan mental (tunagrahita), dan anak-anak yang mengalami kelainan
perilaku sosial (tunalaras). Derajat kelainan masing- masing jenis ketunaan
tersebut juga sangat beragam, dari kategori ringan sampai yang berat, namun
secara umum dapat dilihat klasifikasi secara umum maupun klasifikasi secara
khusus.
Anak-anak berkebutuhan khusus, yang mengalami berkelainan
akademik dalam konteks ini mencakup anak-anak berbakat dan anak-anak yang
mengalami kesulitan belajar khusus. Derajat kelainan masing-masing jenis anak
berkebutuhan khusus tersebut juga sangat beragam, dari kategori ringan sampai
yang berat, namun secara umum dapat dilihat klasifikasi secara umum maupun
klasifikasi secara khusus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar